Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2015

Sementara kuselesaikan urusanku, kau jaga bak-baik dirimu.

Sementara kulumat kopiku, dan kau cukup menunggu hingga tegukan terakhir lepas, dan kita mulai berpikir bagaimana rencana ke depan.
Kuselesaikan urusanku dulu, dan kau jaga untuk terus mengepalkan tanganmu, lalu berjanjilah bahwa kita akan turun bersama. Kau panaskan, kau idealkan, lalu sisanya aku selesaikan. Meski media mulai bicara ba-bi-bu dengan bersungut dan bau, kau tetap jaga saja diri dan kerabatmu dengan pemikiran bahwa semua itu pada dasarnya omong kosong. Jangan tergesa-gesa, tindakan yang lahir hanya dari pancingan perut, harga diri, dan kelamin tidak akan menimbulkan kebaikan, baiknya kita bereskan bersama dengan kajian mendalam berbalut ketakwaan. Tak perlu terlalu keras, karena kekerasan hanya boleh dipakai pada kekufuran. Tak perlu terlalu lembut pula, kelembutan hanya boleh dirasakan pada saat kita menikmati iman.
Hanya saja pongkol dari permasalahan ini adalah bahwa kita selalu tidak sadar bahwa kita sedang dalam masalah. Ini akan didapati sewaktu kita berefleksi pada…

*&*&^&^%^&%$%$%$#$#$

Aku tidak pernah mengerti bagaimana nanti saat degup jantung ini kutuangkan sepenuhnya padamu. Tidak pernah terbayangkan bagaimana jika kondisi di depan tidak memberi kita celah untuk tenang dan saling lempar senyuman. Aku tak tahu bagaimana bisa menjaga akidahku sendiri yang kadang oleng diterjang badai besar kemaksiatan sedang dirimu menanti untuk kuimami. Sungguh, Aku tak tahu!
Aku belum sempat berucap sepatah kata pun padamu bahwa aku mencintaimu. Hanya obrolan dengan ayahmu tempo lalu yang begitu kaku itu, mulutku gagap, meneguk kopi yang kau buat, dan berkata bahwa a...a..aku mengkhitbahmu. Lepas itu tidak ada obrolan hingga kini, dan jiwaku kalut menanti kedepannya.
Aku juga belum sempat berkirim pesan, bertanya kabar. Sejak pertemuan terakhir dengan ayahmu itu kau tersenyum dan aku tergetar, hingga di sepanjang perjalanan pulang aku tak sadar bahwa dalam pikiran wajahmu mulai kuat tergambar. Dan detik yang terus berjalan, disitulah bertambah pula kekalutan. Sungguh, aku ingin se…

PESTA BESAR LEKAS DIMULAI!

Kita akan penuhi jalanan dengan segera! Dan mahasiswa yang tidak terbiasa dengan perlawanan akan segera kita buat berpetualang dengan aspal dan asap jalanan. Kita akan penuhi jalanan dengan segera!. Sekali lagi, kita akan penuhi jalanan dengan segera!.
Kampus-kampus harus segera kita panaskan, dialog-dialog terkait isu kontemporer harus lebih sering kita gelontorkan. Dan warung kopi, pelataran kampus, ruang kelas, masjid, maupun area publik lain harus dengan serius kita lumat dan bakar dengan kajian analisis yang sistematis.
Kiraya tak lagi penting bagi kita menguak keterpurukan Indonesia, bagi kalangan semodel kita, kalimat yang pantas terlontar saat ini hanyalah perlawanan untuk lebih melibatkan hati menghadapi jeritan yang sudah tak kasat mata, yang sudah kering karena derita yang terlampau sinting. Pemerintah sudah menjelma melebihi bangsat dan begal, sementara rakyat semakin dibodohkan oleh siaran-siaran cinta, dangdut, dan reality show tolol penyebab kemalasan intelektual. Sejatin…

TOA yang terganti tongsis

Cukup tidak masuk akal! Kepala yang sudah rapi diletakan di balok tatakan, yang tinggal menunggu untuk disikat pedang ini sama sekali tak menghasilkan perlawanan. Semenjak gagasan 'filantropi' gaungnya melambung bersamaan dengan selebornya gaya hidup, yang namanya perlawanan sudah bukan lagi barang mewah. Bahkan bisa dikatakan kondisi gila ini telah memosisikan perlawanan terhadap penindasan menjadi bahan candaan. Lihat saja, ciri masyarakat frustrasi telah kita raih, adalah dengan meletakan masalah dengan menganggapnya lelucon dan sama sekali tidak bermasalah, pantas saja semakin banyak masalah!. 
Kultur masyarakat yang banyak cengengesan semodel inilah yang kita khawatirkan menjadi penghalang kita untuk maju. Berbagai isu krusial selalu ditanggapi dengan ringan dan biasa saja. Padahal lama-lama hal ini telah membuat kita semakin 'nanceb' melekat kuat pada masalah. Isu Ahok-Haji lulung sengaja dibuatnya terpingkal-pingkal, isu naiknya harga kebutuhan pokok dibuat gamba…

Tugas abadi mahasiswa itu bernama kontribusi pada kehidupan

Tegukan kesekian, kernyutan yang menajam, dan setelah sampai di tenggorokan saya hanya melihat antara kopi dan realitas begitu tidak rukun. Kondisi Indonesia kini begitu menampar, membuat muak tak kepalang. Apa pasal? harga rupiah anjlok, sembako mahal, begal, LPG dan TDL sama-sama melambung, namun yang lebih membuat cemas adalah distorsinya beragam solusi dan naiknya angka kelahiran dari pasangan kemusyrikan dan kemunafikan yang jauh melebihi tuntunan KB.
Sementara itu tugas kita sebagai mahasiswa hanya terus membuat tagihan utang tanggung jawab derita rakyat semakin membumbung, menghasilkan bunga hutang yang tak kalah gila. Beragam agenda telah resmi kita gelar, namun banyak dari kegiatan kita hanya gelaran sempalan yang jauh dari menyuguhkan solusi apalagi kebaikan. Lihatlah!, coba tengok dengan detail, agenda apa yang sering kita gelar itu? "perlombaan futsal tingkat fakultas, pelatihan wawancara kerja, seminar kewirausahaan, dialog dengan birokrat kampus, seminar beasiswa&quo…

Antara si begal demokratis dan mahasiswa kelelahan; (respon serius pada Lembaga Kemahasiswaan Undip)

"Solidaritas yang tidak diawali dengan kritisme tak pernah menjadi jawaban singkat"  (Edward Said)
Sudah menjadi rahasia umum akan ada banyak respon dan hujatan manakala kita bertindak urakan. Mahasiswa punya pilihan, sejatinya ia tetap bebas secara status; apakah berdiri bebas sebagai pihak pengkritik, memihak pada kebenaran, atau melacur hingga lemas dan baru tersadar saat sudah bernanah.
Selasa, 10 Maret 2015. Saya tersontak membaca salah satu rilis dari akun twitter lembaga kemahasiswaan UNDIP. Kuliah Umum yang bertemakan "The Development of Strategic Partnership between U.S and Indonesia" akan digelar besok 11 Maret 2015 di Gd. Prof. Soedarto. 
Alih-alih terkagum, saya malah merasa heran. Nampaknya terlalu gampang bagi kita untuk mengangguk meng-iya-kan tanpa ada kekritisan sedikit pun. Penguatan hubungan Indonesia-AS yang mana yang mesti terus dikuatkan? Saya melihat hubungan ini ibarat cinta sebelah tangan; menyakitkan bagi yang satu dan mengenyangkan bagi yang …

BUKU: GERAKAN MENOLAK SEMBRONO!

Judul: Gerakan Menolak Sembrono
Penulis: Aab Elkarimi
Halaman: 132 Halaman
Dimensi: 12 x 17,5 cm
Semodel sastra pecundang, buku gerakan menolak sembrono telah terlanjur menawarkan pelarian dan menghindar. Melarikan diri dari informasi amburadul, menghindar dari media lacur yang hanya gelaran industri penjual mimpi... Barangkali inilah yang disebut pecundang yang arif dan bijak, yaitu pada saat kita mempercundangi kesembronoan dan mulai menepi untuk melakukan perlawanan dengan gerakan.

Sinopsis:
Saatnyalah sekarang menanti siuman dan sadar, menepi kembali untuk lebih cerdas dan hati-hati, mengambil informasi yang penting dan membuang yang tidak penting. Jika bisa, kita lari sekencang-kencangnya, menjauh dari informasi sampah yang jika dibaca/dilihat hanya membuang waktu dan menimbulkan kegaduhan. Maka lewat buku inilah Insyaalloh jika memang benar dipahami, penulis berusaha membantu melarikan diri dari kesemrawutan opini menuju suatu kebenaran, kepastian,
dan jika pun dihadapkan pada opini …