Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2014

Kabar Baik

Syukur bini'matillah atas anugrah Allah swt, yang menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan, begitu lengkap, detail. Hari ini rasa girang yang luar biasa tiba-tiba saja menyelinap hanya karena satu surel balasan yang tak panjang:

Wa'alaikumsalam
Naskah secara umum sudah dibaca oleh tim redaksi. Secara prinsip konten tidak ada yang menyimpang dari ketentuan redaksi, meskipun dari segi pilihan bahasa yang menggunakan bahasa 'sastra', agak sedikit kami sayangkan.
Untuk itu, kami memutuskan naskah tersebut DITERIMA dengan persyaratan akan kami edit dari sisi bahasa agar tidak begitu hiperbolik.
Jika penulis setuju, maka akan kami lanjutkan ke proses selanjutnya berupa akad penerbitan.
Semoga berkenan. Syukron.
Wassalam

Ah, ini mah mesti makan-makan. Cabuuuuttttt... (eh, cek dompet dulu...)

MATI

Aku hafal! sewaktu kecil kabar kematian teman hanya satu orang, itu pun kakaknya teman, hingga pada saat tertentu aku lupa dengan kekagetan bahwa usia belia bisa mengalami mati juga. 
Aku tak hafal! saat ini di usiaku yang mulai panas dengan hingar bingar aktifitas dan kefanaan entah ada berapa kabar kematian sahabat, teman, kerabat, dan sialnya aku tak bisa menyaksikannya di akhir hayat! Bagaimana rona wajah dan guratnya, apa saja yang dikhawatirkannya, dan bagaimana semua itu berjalan detail hingga kembang puring di tancapkan di atas pusarannya. Sialnya pula aku tak sadar bahwa kematian adalah hal yang tidak bisa diprediksi, terkadang muncul disaat yang tidak kita mengerti; berjalan, terbaring, lari, sujud, bahkan dalam kondisi gemulai bermaksiat.
Menghawatirkan memang! Tapi suratan takdir bicara tentang hal yang lain. kullu nafsin dza iqatul mauut! bahwa manusia, siapa pun itu, termasuk kita, akan mengalami kematian. Dan ini bukan soal kematiannya, namun bagaimana besarnya tanggung j…

SIBUK!

Kamerad! Aku masih hafal kata-kata itu, kalimat yang dikatakan Lenin dalam salah satu teks pidatonya, suatu kelaziman untuk memanggil sesama anggota komunis dalam menghimpun kekuatan dan menancapkan militansi. Sekiranya tipikal Lenin masih bebal dengan gagasannya, lalu bergerak brengsek, serabutan dan akhirnya mati, mungkin kiranya yang patut aku lakukan adalah membaca, sedikit mesem, lalu diliput ngeri yang luar biasa. Tapi lupakan saja! Aku hanya ingin dalam hidup ini ada hal-hal baru yang berbeda, berjalan melawan ketimpangan akidah, kemerosotan moral sosial-kultural, lalu meretas batas bangsa, membabat sekat nasionalisme dan memanggil semua pengemban ide ini dengan sebutan "ya, ayyuhal muslimun!" dalam satu teriakan nyaring di podium, toa masjid, rekaman audio internet, tulisan, dan medium lain yang bisa digunakan, lalu hal ini membuat getaran,  membuat militansi, membuat semacam deklarasi abadi untuk segera meninggalkan kelacuran hidup yang sudah angkuh dan main-main. T…

Si ke tujuh dari Dua belas

Pernahkah kita benar-benar belajar dari keadaan yang telah menimpa kita? Rasa-rasanya jarang sekali suatu hal yang telah menimpa kita menjadi pijakan untuk direnungi dan lebih dalam diresapi, sehingga menimbulkan decak kagum yang luar biasa bahwa ajaibnya kuasa Allah tak terbatas dan tak bisa dikira-kira.
Termasuk di dalamnya sepercik kisah hidup seorang manusia muda yang mulai berkeluarga, melahirkan banyak anak, menjalani masa-masa pedih dan ketir, beranjak naik dan tegar, dari gaji hanya cukup membereskan isi perut dan mulut istri kemudian membuat senyuman orang-orang di sekeliling, melahirkan banyak air mata yang menyejukkan dan satu kesimpulan; bahwa syukur adalah satu-satunya pilihan. Namun ini bukan tentang materi dan kekayaan, hanya sebuah perjalanan hidup yang lelah, namun Alhamdulillah bisa melahirkan ibrah. *** Kehidupan bergejolak riuh, gejolaknya telah menyebabkan cerita dari sebuah rumah sederhana cukup berbeda. Dari rumah sederhana itu ternyata tanpa banyak diketahui medi…