Buta

Aku bersamamu orang buta. Aku membuntutimu hanya ketika ku haus dengan pandangan lain mengenai dunia. Darimu aku belajar bahwa buta itu sesuatu yang bisa mengantarkan ke surganya Allah, tuhanmu dan tuhanku juga. Ya, kebutaan yang  maknanya parsial, hanya buta dalam kemaksiatan. Ini bukan pura-pura, bukan main-main pula. Aku tahu, ini sungguh sulit untuk dimengerti. Kau buta hanya pada sesuatu yang semu, yang bagian dari kebanyakan dan yang menyalahi aturan. Kau buta, kau tak sadar, dan orang lain tak mengetahui. Tetap, kau buta bagiku!

Mungkin benar diagnosaku dulu, kau mulai buta sejak kau mengawali hidup dengan berpikir. Dari situ kau fahami islam sebagai pegangan, kau semangat dan memegangnya erat. Aku ngeri melihatmu begitu. Buktinya, perangaimu itu membuatku uring-uringan semalaman, sejak kau ajak aku memegang islam pula. Panas, aku lepaskan, kau bantu memegang, aku lepaskan lagi. Diam lama sekali, tiba-tiba kau ajak aku berpikir tentang apa saja, aku sibuk mencerna, lama juga, akhirnya aku mengerti bagaimana antara manusia, alam, dan hidup itu sendiri saling berhubungan. memang aku masih kepayahan sekali, namun kebiasaan yang dipaksakan perlahan lebih nyaman, tapi bukan berarti tidak sakit.

Kau tumbuh dalam semangat keislaman dan kebutaan terhadap kemaksiatan. Ragamu, jika aku memandangmu, seketika itu aku ingat Allah, raab ku dan raab mu. Dadamu yang lapang kau bentangkan, kedua tanganmu kau perlebar, kau bilang itu untukku, mewakili ucapan "kemarilah lebih dekat dan bersatulah supaya kita kuat". Sebenarnya aku mau saja, jika dunia tak seerotis ini menggoda. 

Oh, tentang ucapanmu tempo hari, seperti apa yang kau sebut manusia yang pemikirannya tak murni namun tetap disebut ideologis itu? aku lupa 
oh, baiklah, aku ingat-ingat terlebih dahulu kapan waktu persisnya kau mengatakannya. 
Mungkin sewaktu matahari mengedip-ngedipkan mata menggodamu dalam dhuha, kau ingat? ketika kau berucap usai perbincangan mengenai hal krusial kekinian, dengan kalimat penutupnya 'wallahua'lam bisshoab', bagaimana penjelasanmu?

Pasalnya, saking lupa, aku hanya memaknai bahwa pengertianmu mengenai manusia sederhana adalah: ketika kau yakin atau pun ragu terhadap sesuatu, maka kau berucap 'hanya Allah yang lebih tahu'. tidak hanya dalam ucapan, bahkan tulisan essay, skripsi, tesis, maupun disertasi kau bubuhi kalimat itu.

Wallahua'lam.

0 Response to "Buta"

Post a Comment