Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2014

ICMS 2014 bagi saya

Solo, 26 Oktober 2014.Selalu membuat saya terkagum-kagum, deretan mahasiswa yang berwajah biasa namun menawarkan sesuatu yang berbeda, yang membakar, dan barang tentu anti mainstream. ICMS 2014 suatu hal yang luar biasabagi saya.

Sudah pasti, ada rasa cemburu luar biasa yang saya kuatirkan dan membuat tidur tak nyaman; mengapa tak dari dulu saya berjuang, mengapa tak dari dulu saya bergerak, mengapa tak semilitan orang-orang di sini saya berontak.

Angin segar bagi bangsa indonesia, dari kongres ini sebuah resolusi telah tercipta untuk rejim baru (jokowi-JK). Resolusi yang menghantarkan pada pijakan berupa semakin matang dan kuatnya ide khilafah untuk muliakan indonesia.

Saya merindu sebuah candu perlawanan. Dari Semarang menuju Solo. keringat ini akan terhempas di Jakarta untuk lantang berkata: "we need khilafah, not democracy and liberal capitalism".



Nasib Sumpah Pemuda di Era Sumpah Serapah

Dulu kita kebingungan yang sering dibicarakan itu Indonesia ‘yang mana’ dan ‘punya siapa’. Klausul yang muncul dari klaim atas Indonesia belum sepenuhnya gamblang. Namun pada 28 Oktober 1928 ketidakjelasan itu mulai nampak jahr. Adalah sumpah pemuda yang mengawali kiprah bangsa ini untuk mandiri dan terbebas dari penjajahan. Sumpah sebagaimana yang terlontar dalam tiga buah kalimat yang telah kita hafal, adalah bentuk penegasan bahwa kemandirian sebuah bangsa harus dikukuhkan dan dimanifestasikan dengan melepas setiap belenggu penjajahan.
Lalu kita bertanya, mengapa pada saat itu para pemuda harus bersumpah? Mengapa harus terjadi semacam deklarasi kesepakatan antara dirinya dengan Tuhan? Sumpah yang menjadi kalimat sakral anti lalai itu lahir dari putusan kongres pemuda ke II yang diprakarsai oleh Moehammad Yamin lewat adegan sodoran kepada Soegondo saat Mr. Sunario tengah berpidato. Para pemuda bersumpah untuk sesuatu yang harus ditinggalkan, dimatikan, dan dilenyapkan dari muka bumi.…

Masa Depan Indonesia Di tangan DPR yang baru

Saudara... apa pasal kita bicara DPR?
Acapkali setiap kita menyebut kata itu, perasaan dongkol selalu merajai. Setiap bilangan huruf itu di eja, bunyi De Pe eR adalah kesintingan, penuh kepentingan, dan kebusukan. Barangkali menelanjangi adalah kepentingan yang harus kita laksanakan saat ini juga. Seperti mereka yang juga berkepentingan untuk tidak mementingkan kita (baca: rakyat). 
Kemarin rapat RUU pillkada yang lebih mirip pantat, telah kita saksikan. Menjijikan. Tapi kita adalah warga negara yang baik, warga negara yang selalu punya harapan untuk bangkit, namun kepayahan karena ketidakjelasan. Lalu apa yang bisa kita lakukan? toh ketika bicara masa depan, kita sudah tidak punya harapan, dibunuh keculasan, kesenonokan, dan tingkah mereka yang mirip anak TK.
Anggota dewan yang dielu-elukan sebagai legislator, memang dari dulu selalu bikin ulah. Tingkat kedewasaan yang hanya sebatas jenggot, perut buncit, jas dan kopiah tidak memiliki urgensi apapun selain kekonyolan tindakan yang h…

PHOBIAMANIA, TENTANG PENGEMASAN DISTOPIA BANGSA

Saya senang dengan teknik berpusi, alah satunya teknik penuturan polisidenton. Akibatnya yang terjadi saya menggunakan dalam mendefinisikan kondisi terkini pemuda, berbunyi: generasi muda sedang menuju ketidak mengertian, menuju kebingungan, menuju ketertipuan, menuju kebodohan, hingga muaranya adalah mereka benar-benar tersesat. Awalnya ia tertipu oleh konsep hidup yang simple dan sederhana, tertipu oleh mainstreamnya gerakan teman sebaya, tertipu oleh iklan, lalu tertipu, dan tertipu, akhirnya ia malah gayeng dalam pelacuran konsep yang gamang. Seperti kita lihat belakangan, banyak tongkrongan yang berisi ketidakmatangan dan membuang banyak waktu, membuang banyak agenda, membuang banyak kesempatan, membuang banyak beban, akhirnya pemuda menjadi sampah peradaban.
Soal pemaknaan dan konsep hidup memang tidak main-main. Terbukti ada banyak kegagalan pemuda dalam mengambil tidakan yang berujung kengerian. Coba saja dibayangkan, menurut Linda Teplin, dari Nortwesterin University Feinberg …

Menteknik-puisikan Demokrasi

Seperti polisindeton, demokrasi telah membawa kita menuju sesat pikir, menuju sesat tindakan, menuju sesat hasil, hingga muaranya adalah kesesatan bahwa manusia telah benar-benar sesat. Dari yang semula biasa menjadi sedikit aneh, menjadi aneh,menjadi sangat aneh, dan akhirnya benar sinting. Seperti yang kita lihat tadi malam; sekelompok buruh yang berlaku juragan begitu kekanak-kanakan dan (maaf) ASU tenan!
Atau kita dramatisir saja. Jika dalam cerita, begini alurnya: Bapak ketua baru pulang dari Amerika, membawa sepotong kepala manusia. Bapak ketua pulang ke desa sambil juga membawa segepok uang dan sekoran berita. Potongan kepala, gepokan uang, dan koran diramunya menjadi Demokrasi, hingga kita yang memerhatikan tingkahnya nampak lelah dan muntah-muntah. Semua isi perut rontok berhamburan ke lantai hingga halaman depan.
Dan saat ini ketika Demokrasi hidup 'phetangtang-phetengteng', kita selalu tahu bahwa ini hanya dibutuhkan manusia yang (maaf) tolol dan tidak cerdas. Begitu …