Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Mahasiswa Budak

Kita bisa melihat realita kekinian, di mana para mahasiswa menyelupkan mimpi-mimpi masa depan dalam satu pengkerucutan konsep yang mainstream berupa penggandaan materi dan memperebutkan kesenangan hidup. Padahal mengutip apa yang dikatakan Quthb dalam Beberapa Studi tentang Islam bahwa ‘saat jiwa seorang manusia telah sengaja merendahkan dirinya kepada salah satu ambisi nafsu tubuh, maka sejatinya akan menjadi lemah dan tidak berdayalah ia untuk bergantung di udara merdeka dan bebas’. Manusia yang seperti ini melekat pada tanah bumi dengan kecemasan besar ketika ada yang membicarakan kematian, namun menikmati tercebur kepada lumpur kotor yang bangga dengan hiruk pikuk kesibukan perut dan kelamin.

Karena itu, apapun yang mendasari mimpi para mahasiswa jika masih berupa aspek materi sejatinya adalah budak. Tujuan-tujuan yang serempak disepakati ini akan laku ketika sebuah peradaban manusia telah kosong dari keinginan dan kemampuan untuk berjuang demi sebuah kebenaran. Kalau dunia ini tel…

PEMUDA INDONESIA, POTRET GENERASI IMBISIL

*Sebuah catatan tentang generasi penerus di negeri main-main


Di negeri kita, sekelompok anak ABG dengan memakai baju yang sama,putih abu, putih biru, hingga putih merah, saling berkubu. Tidak berkelompok untuk keperluan riset ataupun belajar bersama, namun mencoba melakukan uji peperangan melawan musuh. Mereka besemangat, seolah berperan menjadi aktor utama para patriot di buku sejarah. Pemicunya tidaklah bermutu. Musuh mereka adalah siapa saja yang berbeda warna kupluk berbeda nomor sekolah, atau sesekali konflik berawal dari rebutan pacar, balapan motor, inkuisisi wilayah tongkrongan, sampai pada batas yang tersinting adalah pertempuran yang terjadi karena rebutan korek untuk merokok. Media yang digunakan untuk tempur pun tidak ideal, tidak jantan melawan dengan kepalan tangan kosong, yang mereka gunakan adalah bata merah, gear sepeda bahkan dengan golok berculah. Inilah generasi muda saat ini, sebuah potret pilu dari bangsa yang belum selesai mendidik pewarisnya. 
Memanglah sebuah p…

Hari Umur Umat Islam

Dalam tulisan kali ini saya tidak ingin terlalu mesra bercengkrama dengan tuts keyboard dan gemericik suaranya yang merdu. Saya hanya ingin lebih lama diam, memutar lantutan syair karangan tufail. Sedikit mengeraskan volume suara, tapi tidak sampai mengganggu yang lainnya. 
Malam ini saya hanya ingin mengenang, memejamkan mata tentang sebuah peradaban hilang, juga tentang sebuah nasib ummat dan perjuangannya. Tapi Tufail ingin bercerita saja tentang kondisi kekinian, dan saya maklumi. Saya dengarkan. 
Realita yang begitu menyanyat ini, diceritakan bukan semata untuk ditulis, dibaca, didengarkan atau sebatas dinikmati, sehingga tidak menelurkan apapun selain prihatin dan rasa iba. Ini tentang cerita, dan harus menimbulkan bekas untuk berontak.
ketika fundamental adalah teroris dan demokrasi berorasi dalam alunan kata rangkaian iblis sumpah serapah untaian kata tragis liberalis syair demokrasi memecah belah turki dan kebisuan mekkah
propaganda mata-mata logika yg dustakan nilai aqidah neraka ti…

Ironi ini untuk revolusi

Aksi akrobatik politik telah banyak dilakukan, dan rakyat sudah terlalu lelah diikut sertakan. Cukuplah sedikit beri celah bagi mereka untuk menuntut penghasilan yang melebihi kansumsi perut sebulan. Toh bagaimanapun intimnya mereka menggauli opini dan menjadi jurkam parpol, ini semua kan tetap untuk urusan perut?
Sementara kau masih tak mengerti juga... Kampanyemu yang ndakik-ndakik lebih mirip menajajalkan dagangan daripada memberikan pengertian. Ambisimu dalam orasi lebih terlihat mencurigakan daripada meyakinkan. Maka sungguh, jika engkau berhati lapang dan berpemikiran bersih, berikanlah sedikit kesempatan itu. Tidak perlu teori kesejahteraan yang muluk-muluk dengan data analisis dahsyat bahwa ekonomi negeri kita beranjak ke angka lima sekian. Tidak perlu memilah kata untuk menenangkan mereka, Rakyat sudah terlalu curiga dengan pelacuran kata yang terselubung, lagipula sudah lama rakyat tahu bahwa kata-kata indah yang menukik itu hanya milik Romeo dan Kahlil, sedikit juga di waris…

Tolong jelaskan, bagaimana layar kaca menjawab makna hidup!

Saya mempersilahkan anda berjalan tanpa referensi, ikuti semua yang disiarkan televisi dan film-film, dari gaya berpakaian sampai bagaimana selebritis dikebumikan. Just go with the flow!.
Silahkan ikuti saja intruksinya, dimulai bagaimana sinetron dan film mencontohkan bergaul bersama teman, apa yang akan diobrolkan, siapa yang baru jadian, kurang apa dalam berdandan, koleksi make up apa yang belum bisa terbeli, pakaian apa, tongkrongan mana, gadget apa, kendaraan, gaya rambut, style berjalan, gesture tubuh, posisi duduk, sampai buang hajat,,,, silahkan ikuti semua. 
Jangan pernah anda capek-capek berpikir dan buang waktu untuk banyak baca; bicara fluktuasi, ideologi, keyakinan agama, harga cabai, kebijakan yang hadir, fenomena sosial, atau pun apapun yang berbenturan dengan pemikiran. Jangan muluk-muluk mengurai kebingungan pemikiran, ikuti saja instruksi layar yang menayangkan kebahagiaan dan fantasi-fantasi itu.
Jika dikemudian hari anda merasa hidup anda bingung dan kosong, larikan k…

Merindu Candu Baru

Dalam kondisiku yang mabuk, pernah dalam hati aku mengutuk Tuhan, mengapa menurunkanku di bumi yang kacau, sambil aku mengobati diri dengan terus teriak bahwa aku hidup di negeri merdeka.
Dalam kondisiku yang masih mabuk, aku berumpama dan lebih jauh berfantasi tentang nasib negeri yang menyikapi semboyan "lebih baik mati di medan perang, daripada hidup dalam kegelapan"  dengan analogi seorang dungu yang berjalan ke toko emas untuk membeli kotoran.
Namun apa daya, jangan tanyakan makna, otaku hanya bisa bekerja sedikit, semakin berpikir semakin sakit. Maklumilah, aroma arak yang semerbak terus melantunkan kidung sinting, membuatku memutar-mutar dan kalut, hinggalah tiba tenggakan terakhir yang menagih yang lebih terakhir. Bukan aku yang inginkan mabuk. 
Candu yang sebenarnya tak pernah aku mau, berbicara dengan nada perintah dengan moncong senapan yang disodorkan ke wajah. Candu yang sebenarnya aku benci, mencambukku dengan paksa untuk bersama-sama menikmati, minimal menghirup a…

membolehkan, membiarkan

Bolehlah, kau pandang dunia semaumu, seolah semua milikmu. Kau siasati sendiri masa depan dan kebahagiaan. Bolehlah kau anggap seluruh makhluk pada dasarnya akan selaras dengan semua ambisi dan mimpi-mimpimu, kau kejar sendirian, dan tetap berpegang pada prinsip bahwa hasil itu semata-mata hanya karena kucuran keringat dan pusingnya siasat. Bolehlah untuk saat ini kau raup jutaan ton timah, tembaga, barel minyak, dan apapun untuk keperluanmu. Bolehlah kau merasa setiap saat bahwa setiap kali kau menapaki bumi, menyentuh tanah, menghalau kerikil dengan sepatu, seolah kesemuanya itu sejalan dan memudahkan tujuan-tujuanmu. Lalu dari kebolehan itu kau merasa bisa berdiri sendiri dan menyimpulkan bahwa manusia bisa bertahan hidup karena dalam dirinya terdapat keinginan untuk hidup. lantas bagaimana kau jelaskan padaku tentang orang yang ingin sekali hidup, sewaktu jatuh menendang kerikil tapi masih saja bisa mati? Ah,,, rasanya memang terlalu jauh aku membolehkan semua, tapi dengan egois …

Aku dan Bangsaku

Jika Soekarno pernah menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang meghormati sejarah, maka Parjo, Saimin, dan Sanud, tempo hari berkesimpulan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang legowo menyadari kesintingannya. Sedang bangsa yang lebih besar lagi adalah bangsa yang  menyadari kerusakan dan kesalahannya lantas melakukan muhasabah dan mulai beroperasi mengadakan perbaikan. Begitulah simpulan dari diskusi lepas tempo hari di warung kopi, dan essai ini akan mengulas, menambahi, dan menyempurnakan nilai ke-aku-an dari bangsa yang tidak selesai.
Bertolak dari definisi yang diadopsi KBBI, bahwa yang berarti bangsa adalah “kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri”, maka adanya subjek yaitu para manusia yang berkumpul dan membentuk sebuah pemerintahan adalah hal yang wajib adanya. Tapi dari definisi yang paling general --dan saya rasa sangat sempit ini-- kita tidak bisa membaca definisi bangsa secara sempurna.…