Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2014

MENGURAI KONDISI WALADDHOLIN

Saat ini yang mesti kita lakukan adalah menyapa orang yang bersebrangan. Bukan untuk memaksanya harus ikut kita, cukup jelaskan bagaimana konsep kita, tujuan kita, landasan kita, metode kita, hingga sampai pada tingkat ke-kita-an yang dimaklumi dan tidak lagi menimbulkan kebisingan karena kita berusaha menyapa tanpa cela.
Saat ini yang mesti dipaparkan adalah menggemakan nilai-nilai tauhid dalam segala hal. Dari ritual ibadah wajib, sampai pada kewajiban berhukum yang hanya pada Allah sahaja. Berhati-hati dalam bicara, hindari segala perkataan yang tanpa landasan. Tentunya dengan tetap menghantam demokrasi, mengembalikan kedaulatan hukum hanya pada Allah, menggemakan seruan khilafah dengan tidak melupakan sekecil apapun ibadah wajib, sunnah, dan akhlaknya.
Saat ini yang patut dicontoh hanyalah nabi Muhammad, Tidak!. tidak hanya untuk saat ini. Adalah selamanya.
Saat ini kejadian di depan mata adalah hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, tejadi mengagetkan dan luar biasa menghanta…

UJUNG NADIR INTELIJEN

Intelijen di mana-mana. Intelijen hampir ada di semua pergerakan. Dari gerakan karbitan hingga pergerakkan multi rahasia transnasional. Dari yang sudah tersusupi yang terus dioyak sampai jadi bubur basi, sampai percobaan penghancuran pergerakan besar yang sulit disusupi.
Intel terlahir dari macam latar belakang, mulai dari keamanan negara, organisasi kontra, badan asing sampai pada perusahaan. Intel bisa menyamar lewat beberapa seragam, menyamar dengan kostum, jenggot, kacamata, dan jambang. Intelijen berbaur, berjabat tangan, sedikit diskusi dan tidak sampai 30 hari bisa saja lebih dekat seperti kerabat daripada saudara sendiri. Bagi sebagian orang intel menjadi momok yang menakutkan namun samar. Momok yang kadang membuat jiwa kemanusiaan ciut dan waspada berlebihan, merasa terawasi melebihi penglihatan Allah Swt. Bagi orang grusukan intel akan cepat membuat otak sinting.
Namun intel bagiku bukan apa-apa dan siapa-siapa. Sering aku melihat, tidak sekali dua kali, orang baru dalam pan…

Secangkir kabar negeri dalam bingkai gelas Aab

Kisruh politik menggelora, paling tidak kita saat ini hanya bisa terdiam dan menanti siapa yang selanjutnya akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan negeri ini, masih di bawah sistem demokrasi yang sejatinya mustahil bekerja untuk memperbaiki Indonesia. Bagi kita para rakyat, sesekali mungkin perlu untuk rehat, tidak melulu sibuk saling hasut karena fakta yang ada; dua calon yang tersedia terlalu munafik dan saling menjilat, dan kita pun tidak perlu ikut-ikutan membicarakannya, cukup diam saja dan dekati cangkir kopi yang tersedia di meja. Dan malam ini mari deklarasikan bersama bahwa cukup bagi kita Allah saja tempat mencurahkan jutaan kekecewaan atas realitas yang tidak sesuai dengan keinginan. Karena ada jutaan maksiat yang harus kita Istighfari bersama. Negeri ini belum baik, dan kita rakyat hanya bisa terus berharap, sedikit bekerja sekemampuan kita dan sisanya dikembalikan pada Allah.

Beberapa jam sebelum tengah malam, televisi memberitakan mentri agama republik Indonesia men…

Gottes ist der Orient! Gottes ist der Okzident! . . .

Beberapa minggu ini tuts keyboard tidak berisik dan nakal seperti biasanya, saya sudah lama tidak menulis.

Namun dalam pertapaan yang sunyi dan cukup lama, saya ingin menuliskan beberapa bait syair saja. Sebuah syair sederhana namun menjawab dan mewakilkan ribuan kebesaran.

Gottes ist der Orient!
Gottes ist der Okzident!
Nord und Sudliches Gelande
Ruht im Frieden seiner Hande!

(Punya Tuhanlah Timur!
Punya Tuhanlah Barat!
Benua Utara dan Selatan
Terhampar damai di tangan-Nya!)

Syair yang dibuat Goethe dalam karyanya "Hegire" ini merupakan suatu pernyataan nilai absolute dari kepemilikan semua yang ada di bumi. Ini pula yang saya renungkan tentang kedamaian dan kaitannya dengan pengakuan kepemilikan. "Ruht im Frieden seiner Hande!" yang berarti terhampar damai di tangan-Nya adalah jika pengaturan untuk makhluk yang ada di bumi dikembalikan kepada Allah SWT. Lalu mengapa kita masih menggunakan demokrasi sebagai alat yang melahirkan kebijakan untuk mengatur makhluk? bukankah kit…