Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Futur, Early Warning System

Alhamdulillah atas nikmat Allah SWT. yang sangat besar, sehingga kita semua diberi kenikmatan Istiqamah dalam Islam. Saya ingin mengawali tulisan ini dengan menukil perkataan Imam Al-Ghazali dalam satu risalahnya terhadap murid beliau, yang tertuang dalam kitab kecil berjudul ‘Ayyuha Al-walad’, semoga Allah meridhoi keduanya:
“Wahai anakku memberi nasihat itu soal gampang. Yang sulit adalah menerimanya, karena bagi para pengumbar hawa nafsu nasihat itu terasa pahit, sebab hati mereka terlanjur senang dengan hal-hal yang diharamkan…”
Saya berdoa dan sangat berharap bahwa kita semua tidak termasuk orang-orang yang keras hati dan menolak nasihat dari orang lain, yang disebutkan Al-Ghazali sebagai ‘pengumbar hawa nafsu’.
Pada kesempatan ini juga saya ingin menukil perkataan Imam Al-Ghazali yang lain: “hati-hatilah bila menjadi orang yang suka memberi nasihat dan peringatan. Menjadi orang seperti itu memiliki resiko besar, kecuali sebelum menyampaikan kepada orang lain, engkau lebih dulu menga…

PESAN DARI GURU YANG MEMBUATKU MENITIKAN AIR MATA

Malam itu aku tak bisa tidur, tak seperti malam-malam biasanya yang sudah menutup mata antara pukul 21.00-22.00 WIB. Aku iseng membuka fb dan kutemui beberapa pemberitahuan dan satu pesan. Aku selesaikan pemberitaan masuk dengan waktu yang tak lama, kemudian lekas kubuka pesan masuk. Ternyata dari guruku, beliau yang senantiasa ikhlas mengajariku makna hidup dan kehidupan, tentang beberapa pemikiran Islam lewat keteladanan akhlak dan ibadahnya. "Assalamualaiykum wrwb. Saudaraku yang dimuliakan karena akhlaq dan kemurnian perjuanganmu. Sesungguhnya mata ini tidak akan merasa lelah menanti pemandangan kemenangan. Sesungguhnya kaki ini akan semakin kuat menapaki jalan terjal perjuangan. Sesungguhnya lisan ini tiada henti mendoakan kebaikan untuk izzul Islam wal Muslimin. Sesungguhnya hati ini senantiasa tergetar dengan seruan2 Allah yang melumatkan keangkuhan jiwa. Ketahuilah saudaraku, sikap antum sungguh diperlukan mengingat kondisi politik yang kian rusak, sungguh ketegasan, keter…

MISKIN DATA DALAM MEMAHAMI FAKTA BERAKIBAT KERDILNYA PEMIKIRAN

Ilmu itu bukan pekara suka dan tidak suka, bukan perkara sesuai atau tidak sesuainya dengan kita. Ilmu bukanlah perkara emosional! Ilmu adalah sesuatu yang bersifat netral, karenanya kita harus mendalami data dan faktanya secara menyeluruh. Kita tidak bisa menghakimi sebuah fakta jika data-data yang digunakan hanya separuh. Dalam dunia akademisi misalnya, kita tidak bisa menyusun makalah, skripsi, tesis, disertasi, paper dll dengan data yang minim. Misal seperti kasusnya Pak Ainur rofiq dalam disertasinya tentang suatu Kelompok Islam. Data yang digunakkan beliau hanya 26% dari banyaknya sumber utama yang menjadi rujukan kelompok islam itu, artinya sumber bacaan yang beliau gunakan hanya 50-60 buah buku dari 277 buku yang ada, maka disertasi ini bisa kita katakan GAGAL karena alasan terbesar adalah MISKIN DATA.
Contoh lain dalam dunia Sipil, misalnya, kita tidak bisa menghakimi bahwa sebuah bangunan sebentar lagi akan roboh karena ada retakan di dinding. Menvonis sesuatu secara prematu…
Aku tidak lagi takut atas kematian, meskipun ia datang tiba-tiba. Aku sudah berusaha sekuat-kuatnya berlaku baik, sebisa mungkin menjaga kesucian diri, dan semampu-mampunya menggali ilmu Islam di mana pun. Sedangkan terhadap kesalahan dan kealpaanku, terkait dosa-dosaku yang semakin hari menjulang tinggi, aku menyatakan Istighfar dan penyesalan yang sangat mendalam. Juga terhadap orang yang telah aku sakiti lewat ucapan dan perbuatan, di dunia nyata maupun dunia maya, sampai saat ini aku selalu mencoba menghubunginya sebisa mungkin, untuk bertemu langsung, bermuwajahah dan mengutarakan permohonan maaf serta membicarakan hal yang baik-baik, agar tidak ada penghukuman pada seseorang yang hanya sebatas terkaan dan fantasi khayalan.
Aku pasrahkan segalanya kepada Allah SWT, dan aku senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Adapun tentang hukuman dan siksaan-Nya, aku tidak resah dan gelisah karenanya. Aku yakin bahwa hukuman itu tepat dan ganjaran itu adil.

SE'ENAK UDEL DALAM BERAGAMA

Sayyidina Ali rahimahullah pernah berkata: "Jika Agama semata-mata dipamahi hanya dengan akal saja, niscaya mengusap sepatu itu tentu lebih utama bagian bawahnya daripada atasnya"
Dalam pernyataan Sayyidina Ali rahimahullah ini menjelaskan kepada kita bahwa dalam memahami dan mengamalkan agama tidak bisa kita seenak udel beramal hanya dengan akal. Dalam kasus kecil mengusap sepatu, jika menurut logika, tentu yang dibersihkan itu adalah bagian terkotor, yaitu bagian bawah sepatu, bukan bagian atas. 
Sungguh, dalam beragama itu tidak tepat hanya mengandalkan logika semata karena sesungguhnya ilmu kita terlalu rendah untuk menjangkau ilmu Allah yang agung.
Maka dari itu dalam memahami agama tidak bisa sebatas perasaan saja. Menganggap hal-hal yang tidak sesuai dengan kita adalah hal yang tidak perlu dilakukan, meraba-raba bahwa apa yang harus dilakukan oleh kita adalah semata-mata dari akal logika saja. Lebih jauhnya dalam memahami bagaimana kita tidak bisa bertindak seenak ud…