Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2013

Di depan mayat

Tibalah memimpikan kematian, ketika hidup hanya menjadi fragmen dari teks fiksi utuh yang menggantung, terhenti di tengah, tak selesai. Aku memperhatikan, menerka, membaca, dan sesekali menghirup dalam sekali bangkai-bangkai mimpi yang berjatuhan dari gantungan. Mulanya bagus sekali, hingga sampai pada suatu ketika yang tidak diinginkan, mereka jatuh berguguran, tidak seperti bunga sakura yang jatuhnya pelan-pelan, penuh keeksotisan. Beberapa mimpi jatuh menghentak bumi, tertanam dan bergelinjangan penuh belatung jalang.
Aku adalah hamba Allah yang menggantungkan mimpi seperti yang lainnya. Pada batas kulit kening yang jarang sekali disujudkan, di dalamnya, otakku bekerja untuk mencerna apa yang menjadi keinginan. Aku seperti yang lain dalam menggantungkan impian, penuh ambisi memiliki, bersemangat untuk menjadi, dan bersaing untuk unggul dan mendapat pujian. Namun belum lama ini aku menepak punggung sendiri dan bertanya, Untuk apa semua ini? Tiba-tiba semua rencana buyar. Karena. . . 
H…

Pertimbangan dan hakikat memahami persoalan

Ketakutan terbesar dari bertindak adalah menerima hasil yang tidak kita inginkan, dan aku mengerti sekali hal ini. Ya, ketakutan yang menyelimuti ujung hati untuk mencintai pun tidak seenaknya bisa langsung dinyatakan, kadang butuh pertimbangan, pertimbangan dari segi agama, ekonomi, kestrategisan situasi dan pertimbangan lain yang kompleks, sesuai dengan seberapa banyak kita mengkonsumsi ragam pertimbangan. Itulah hakikat manusia sebagai makhluk pembelajar. Singkatnya, bagiku belajar adalah menambah pertimbangan-pertimbangan baru sebagai pandangan lain yang memungkinkannya menjadi solusi.  Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada kondisi apapun, seharusnya manusia belajar. Kali ini aku menyaksikan pelajaran-pelajaran yang didapatkan dari hasil belajar tentang banyak kondisi yang kualami ternyata tidak lagi tentang sebuah nilai luhur yang dijunjung-junjung, bukan pula tentang norma-norma adat dan agama yang sakral. Perubahan ini mengarah pada kaidah-kaidah kebebasan. Manusia hakikatnya be…

Kapitalisme shut down, siapa yang mengganti?

Hari ini kejelekan terlihat lebih letih dari biasanya, ia sayu dalam pandangan dan gamang dalam mengambil keputusan. Untuk beberapa pekan, menutup badan-badan federal secara teratur dirasa satu-satunya solusi, mengingat tidak adanya alokasi anggaran karena kehabisan uang. Jika saja kerakusan yang dulu mereka banggakan, sebentar saja merendahkan hati untuk berbagi, mengambil simpati dari orang-orang yang mereka injak, menciumi tangan-pipi dan mengelus kepala atas korban konspirasi yang mereka lakukan, mungkin dampaknya tidak sekeras ini. Tapi akhirnya semakin jelas sekarang, kapitalis dengan kebobrokan yang ditutupinya dihantam bencana akibat penutupan yang kurang sempurna. Mereka telah lama tidak mengakui bahwa pepatah yang menyatakan "sepandai-pandainya bangkai dipendam, akan tercium juga" adalah bagian dari kenyataan hidup. Kapitalisme sebagai bapak tertua dari peradaban yang melahirkan demokrasi, liberalisme, dan sekulerisme sedang menghentakkan nafas untuk dikeluarkan, i…