Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

Buta

Aku bersamamu orang buta. Aku membuntutimu hanya ketika ku haus dengan pandangan lain mengenai dunia. Darimu aku belajar bahwa buta itu sesuatu yang bisa mengantarkan ke surganya Allah, tuhanmu dan tuhanku juga. Ya, kebutaan yang  maknanya parsial, hanya buta dalam kemaksiatan. Ini bukan pura-pura, bukan main-main pula. Aku tahu, ini sungguh sulit untuk dimengerti. Kau buta hanya pada sesuatu yang semu, yang bagian dari kebanyakan dan yang menyalahi aturan. Kau buta, kau tak sadar, dan orang lain tak mengetahui. Tetap, kau buta bagiku!
Mungkin benar diagnosaku dulu, kau mulai buta sejak kau mengawali hidup dengan berpikir. Dari situ kau fahami islam sebagai pegangan, kau semangat dan memegangnya erat. Aku ngeri melihatmu begitu. Buktinya, perangaimu itu membuatku uring-uringan semalaman, sejak kau ajak aku memegang islam pula. Panas, aku lepaskan, kau bantu memegang, aku lepaskan lagi. Diam lama sekali, tiba-tiba kau ajak aku berpikir tentang apa saja, aku sibuk mencerna, lama juga, ak…

Sekilas Tentang acara 'FMIPA Bersyukur, bersama Emha Ainun Najib'

Pagi tadi, dalam acara 'FMIPA Bersyukur' bersama Cak Nun menarik untuk kuceritakan ulang. Acara yang dijadwalkan setengah sembilan ini, baru dimulai pukul sembilan lebih. Penyambutan yang cukup asyik dibawakan oleh anak-anak dari SLBN Semarang yang sangat luar biasa, dilanjutkan dengan pembukaan acara inti, pembacaan tilawah, sambutan dari dekan FMIPA dan sambutan dari perwakilan Rektor yang sekaligus meresmikan mushola Baitul Alim yang baru selesai direnovasi. Setelah penandatanganan pada gambar sketsa mushola selesai dilakukan, barulah acara inti dimulai. Cak Nun membenarkan letak duduk kemudian maju kedepan dan mengambil microphon yang disodorkan panitia.
Penuturan yang dibawakan oleh Cak Nun cukup baru bagiku. Ia mulai bicara setelah sebelumnya enggan duduk di panggung dan meminta panitia untuk memindahkan kursi lebih maju ke pelataran depan agar lebih dekat dengan para hadirin, katanya dalam mengisi kajian keilmuan sangat penting 'muwajahah'. Menurutnya, sangat ber…

SERAMNYA NEGARA ISLAM, JANGAN COBA DITERAPKAN!

Oleh: Abdul Qodir
Dalam sebuah komunitas/kumpulan manusia baik skala besar maupun skala kecil problematika adalah hal yang niscaya. Namun timbulnya problematika ini kadang selalu tidak sejalan dengan solusi yang ditawarkan. Jika jeli, anda akan menemukan jejalan dan doktrinasi gagasan-gagasan yang terus diulang dengan gencar, namun secara bersamaan pula menenggelamkan gagasan lain yang padahal sudah terbukti sukses memecahkan segala bentuk permasalahan. Dari mereka --sebagai pelaku yang mestinya bertanggung jawab-- munculah secara sekonyong-konyong istilah relefansi, ketidaksamaan situasi dan kondisi zaman. Artinya Islam tidak relefan dijadikan dasar. Mereka berdalih seperti itu secara sepihak tanpa ada sedikit pun kajian mendalam, koferhen dan komparatif.
Islam, sebagai agama dan juga mabda (ideologi) telah memimpin peradaban dunia selama kurang lebih 14 abad, sebelum akhirnya tenggelam, kemudian dipaksa terkubur pada maret 1924 lewat Mustafa Kemal Attatruk. Dari sini gencar opini peni…

Membenarkan Letak Sains dan Al-Qur'an

Dalam tulisannya Sayyid Quthb pernah bertutur, "Sungguh saya sangat heran terhadap orang-orang yang kelewat semangat dalam memuliakan al-Qur'an, orang-orang yang berusaha menambahkan kepadanya sesuatu yang bukan bagian darinya, membebaninya dengan sesuatu yang tidak menjadi tujuannya, dan menyimpulkan darinya rincian-rincian ilmu kedokteran, kimia, astronomi, dan sebagainya. Mereka merasa bahwa mereka telah menyanjung dan memuliakannya dengan melakukan ini semua!" (Fiqih Pergerakan-Alqur'an dan teori ilmu pengetahuan)
Tentu yang dimaksud Sayyid Quthb bukan melarang kita untuk menggali sains, namun dalam memahami al-Qur'an kita tidak boleh menjadikan sains sebagai imam dan menjadikan al-Qur'an sebagai makmum, karena dengan dalih seperti itu ada banyak orang yang yang berusaha menguatkan al-Qur'an dengan ilmu. Padahal al-Qur'an adalah kitab yang sempurna. Kebenaran al-Qur'an yang bersifat final sudah seharusnya membawa kita pada muara keyakinan yang …

16 September 2013

Mungkin salah satu yang akan kurekam dalam ingatan hanya beberapa kejadian. Bukan sebuah dokumentasi bergambar terlebih sebuah video panjang. Hanya hal sederhana yang termaknai dan dimaknai dalam. 
Jutaan masalah yang menghantam setiap manusia memang senantiasa didefinisikan sebagai kehidupan itu sendiri. Ketika seseorang berjuang untuk menghadapi masalah hidupnya dengan berfikir dan bergerak maka itulah suatu kehidupan. Namun kau tahu? Pilihan selalu saja dilematis ketika skala prioritas membelenggu dalam pemecahan satu permasalahan. Bisikan bahwa "Masalah diri sendiri harus diselesaikan terlebih dahulu, jangan sok jadi pahlawan untuk memecahkan masalah orang lain" menggema bahkan bisa pecah dalam turbin  ketidak eksotisan. Kau tahu? Aku sering tercekik, jeritan kadang tak bisa keluar. Kata ini, meski kuketahui maknanya namun bisa menipuku kembali dengan bentuk yang baru. Aku tahu bahwa ketika kita hidup untuk memecahkan permasalahan yang menyangkut diri kita sendiri seakan …

Membunuh Interaksi

Ah, terlalu dini saya terkagetkan sewaktu mendengar kabar ada peraturan baru bahwa “Organisasi Intra Kampus TIDAK BOLEH berhubungan apapun dengan Organisasi Ekstra Kampus”. Sahih atau tidaknya berita itu sedikit membuat saya tergerak menulis tulisan ini. Sebelum ada verifikasi lanjut, apa yang dimaksud kalimat di atas, saya belum terlalu mudheng tidak juga terlalu gendheng. Pola pikir saya yang masih berpola kira-kira ini semoga tidak salah dalam memahami kalimat di atas.
Namun ketika bicara tentang suatu kekangan, tekanan dan paksaan yang sepihak tanpa proses runding untuk menyimpulkan suatu yang ideal,  maka kehancuran akan menjadi suatu keniscayaan.
Ketika ramai bicara interaksi, beri saya sepasang kera sirkus, yang bersuami istri lengkap dengan buku nikahnya. Kera berjender wanita akan saya kurung dengan alasan  bahwa wanita tidak boleh seenaknya berkeliaran. Sebaliknya, kera yang berkelamin pria saya lepas dan dipaksa untuk mencari nafkah, setiap kera pria kembali akan saya cambuk…